Tajuk Republika: Inkonsistensi
Minggu, 24 Juli 2005
Inkonsistensi
Oleh : Haedar Nashir
Ternyata Tuhan tak suka pada orang yang banyak bercakap kata tapi tak berbuat nyata. Lain di lisan, beda pula perbuatan. Dalil tak sesuai kenyataan. Pendek kata, pada inkonsistensi perilaku. Lebih-lebih manakala inkonsistensi perilaku itu dengan mengatasnamakan agama. Mengatasnamakan Rasul. Mengatasnamakan Kitab Suci. Lebih dahsyat lagi mengatasnamakan Tuhan. Kabura maqtaan inda Allah 'an taquu luu maa laa taf'aluun. (QS Ash-Shaff/61: 3).
Tengoklah bagaimana perilaku beragama dalam dunia keseharian. Katanya beragama, tapi kok sangat sadar jabatan hingga menjadi budak kuasa (ta'bid al-siyasiyah). Katanya bertuhan, tapi menjadi budak ego (ta'bid an-nafs). Orang bilang mengikuti jejak Nabi, tapi menjadi budak seksual (ta'bid al-sahawat). Katanya mengikuti titah Kitab Suci yang asli, tapi jadi hamba harta (ta'bid al-mawd). Begitulah gugatan kesadaran yang penulis pinjam dari salah satu frasa "Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad" mengenai kecenderungan perilaku manusia. Bahwa paradoks berperilaku kini telah menjadi fakta yang meluas. Lain di hati, lain di bibir. Lain di lisan, lain pula perbuatan.
Inkonsistensi itu tidak konsisten. Tidak sesuai, tidak ajeg, bahasa agamanya tidak istiqamah. Inkonsistensi selalu menampilkan ketaksesuaian antara dunia ideal dan kenyataan. Katanya beragama, ahli agama, bahkan jadi tokoh agama, tetapi dunia nyata sering paradoks dengan pesan luhur agama.
Inkonsistensi itu sejenis kemunafikan perilaku dalam realitas. Ciri orang munafik, menurut Hadis Nabi, ada tiga. Manakala janji tak ditepati. Jika berkata dusta. Apabila diberi kepercayaan khianat. Bahasa lainnya kontradiksi, selalu bertentangan di dalam dirinya sendiri. Bibir serbamanis, tetapi perbuatan pahit seperti rasa empedu. Di lisan selalu berbicara alfabeta agama, tetapi lisan dan perbuatan yang ditunjukkan tak memancarkan napas agama. Agama yang suci, menyejukkan, elok, damai, dan memancarkan rahmat bagi siapa pun.
Inkonsistensi akhirnya merupakan bentuk dari krisis perilaku. Bahkan dapat menjadi akar dari krisis kehidupan di muka bumi ini. Tak kecuali untuk krisis di negeri tercinta ini. Di muara ketidak-konsistenan inilah sesungguhnya kita dapat jawaban dari banyak masalah rumit di negeri ini. Kita jadi bangsa paling korup, padahal mayoritas Muslim dan bangsa ini termasuk religius. Padahal mereka yang naik haji, umrah, berdzikir akbar, olah spiritual via manajemen qalbu, hingga beristighasyah justru kian hari semakin marak. Jangan-jangan penyakit utamanya memang pada inkonsistensi itu.
Tengoklah kenyataan yang telanjang. Di partai-partai politik Islam rebutan jabatan dan konflik kepentingan, sungguh tak kalah kerasnya dibanding dengan di partai lain yang dianggap sekular. Di ormas-ormas keagamaan pun perjuangan kekuasaan tak kalah serunya, ada juga yang berujung perpecahan karena "ayat kursi" yang jangka pendek itu. Bahkan konflik dengan semangat agama seringkali jauh lebih keras karena masing-masing pihak merasa berada di pihak yang paling benar dan membawa pesan suci Langit. Padahal, jika orang sudah terlampau merasa paling benar, maka yang muncul ialah pemutlakan sikap, absolutisme.
Bisa dibayangkan jika absolutisme itu diyakini penuh berdasarkan kebenaran agama, maka pemutlakannya akan berakumulasi. Orang atas nama agama akan mendudukkan diri sebagai polisi akidah dan polisi syariah berdasarkan keyakinan dan paham yang dianutnya sendiri. Karena merasa paling benar, sulit berdialog dan menerima kebenaran orang lain. Lalu tumbuh keangkuhan, yang kata Nabi bercirikan dua sifat yaitu suka menolak kebenaran (bathar al-haq) dan meremehkan pihak lain (ghamt al-nas). Padahal dalam keangkuhan beragama semacam itu biasanya bersarang penyakit inkonsistensi secara aman.
Inkonsistensi memang bisa tumbuh mekar dalam kenyataan beragama. Terutama dalam verbalisme beragama. Agama verbal dalam menyatakannya sering berbeda dengan beragama secara aktual. Tuhan bahkan memperingatkan agar kita jangan sampai menjadi pendusta agama, karena tak memberi makan anak yatim dan membebaskan orang miskin. Itulah teologi Al-Ma'aun dalam Alquran. Semangat dasarnya sama, agar iman konsisten atau paralel dengan amal saleh.
Maka tanggung jawab dan moral kaum beragama sangatlah berat. Beragama bukan sekadar mengikuti alfabeta syariah secara verbal. Bukan pula sekadar berhenti pada kefasihan berdalil dan bertabligh. Bukan pula hanya pada simbol-simbol. Lebih dari semua itu bagaimana beragama menunjukkan keteladanan dalam praktik untuk semua hal yang menyangkut kebajikan hidup.
Kenapa Tuhan begitu benci pada inkonsistensi beragama? Wallahu 'alam. Tapi, jika diselisik, tampaknya muara dari inkonsistensi itu justru akan berujung pada kemunafikan. Sedangkan kemunafikan justru menjadi sarang dari semua benih kamuflase. Menjadi tempat melekatnya segala macam topeng. Menjadi tempat bercampur aduknya antara haq dan batil, antara baik dan buruk, antara yang pantas dan tidak pantas.
Inkonsistensi adalah penyakit bawah sadar yang sering tak terdeteksi sejak dini. Orang merasa benar terus, bahkan ketika dia bersalah. Mudah menudingkan telunjuk ke luar, tapi ibu jari sesungguhnya mengarah ke dada sendiri. Kata pepatah, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Lalu, hidup jadi penuh kepura-puraan. Penuh topeng dan layar depan yang indah, tetapi di dalamnya berserakan.
Itulah sisi kelam inkonsistensi, mengubur yang otentik. Dengan inkonsistensi, maka beragama pun dapat menjadi kehilangan watak aslinya. Hilang kemurniannya yang sesungguhnya, selain kemurnian simbolis dan verbal. Agama tak berkorelasi dengan hal-hal yang fitri, yang asli, yang murni dalam makna yang substansial. Beragama menjadi jauh dari sikap adil, benar, bajik, dan hal-hal yang serba maslahat lainnya bagi kehidupan. Beragama kehilangan watak kelembutan dan kedamaian, sebaliknya menumbuhkan dogmatisme dan sikap serba keras. Di situlah inkonsistensi beragama, yang sebenarnya tak disukai Tuhan.
Bagaimana cara memotong matarantai inkonsistensi beragama? Juga untuk inkonsistensi perilaku pada umumnya? Itu pekerjaan paling sulit di muka bumi. Kenapa? Karena menyentuh wilayah yang paling fundamental dalam hidup manusia, yaitu aras keyakinan dan paham keagamaan. Membenahinya harus dimulai dari pencerahan keyakinan dan paham itu sendiri. Jika akar keyakinan dan paham keagamaannya sempit, maka amaliah dan perilaku keagamaan yang diproduksi pun tentu kian menyempit. Jika serba verbal, maka buahnya pun hanya kulit luar. Lantas muncul positivisme beragama. Agama kulit luar tak menyentuh isi mendasar, hingga kehilangan fungsi kerisalahannya sebagai rahmatan lil-'alamin. Fasih berdalil agama, tetapi tak pandai hifzh al-lisan, merawat perkataan.
Jika mata rantai inkonsistensi beragama maupun untuk perilaku pada umumnya dapat diamputasi, maka agama dan kaum agamawan sesungguhnya dapat menyumbang hal paling berharga dalam hidup ini. Pendek kata menjadi pilar paling kokoh dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang utama dan mulia di muka bumi ini melebihi humanisme. Orang jadi percaya akan kemurnian fungsi agama dan peran kaum agamawan secara sesungguhnya.
Kaum sufi punya banyak resep untuk beragama secara otentik, agar tak terjangkiti penyakit inkonsistensi. Mereka misalnya, mengajarkan futuwwah, ajaran tentang kesatriaan perilaku. Bagi kaum sufi, futuwwah adalah aturan dan praktik berperilaku terpuji mengikuti teladanan para Nabi, orang bijak, dan para kekasih Allah yang dimuliakan. Caranya melalui latihan-latihan spiritual yang total. Sejenis ilmu nglakoni dalam jagad kejawen.
Tapi ada banyak kritik dan keberatan pada jalan sufi. Lebih-lebih bagi salafiyyah dan kaum formalis. Dunia sufi, katanya suka kebablasan. Thariqah sufi sering dipandang bertentangan dengan alfabeta syariah. Baiklah, jika jalan sufisme tak memadai dan bahkan dipandang sesat, kita ingin tahu, bagaimana perspektif Islam syariah dan salafiyyah menawarkan jalan keluar untuk memotong matarantai inkonsistensi beragama maupun paradoks perilaku pada umumnya dalam kehidupan dunia nyata saat ini. Adakah jalan formalisme dan puritanisme memberi solusi mujarab? Jangan sampai dalam formalisme dan puritanisme yang serba kulit luar itu, justru bersarang banyak penyakit inkonsistensi.
Inkonsistensi
Oleh : Haedar Nashir
Ternyata Tuhan tak suka pada orang yang banyak bercakap kata tapi tak berbuat nyata. Lain di lisan, beda pula perbuatan. Dalil tak sesuai kenyataan. Pendek kata, pada inkonsistensi perilaku. Lebih-lebih manakala inkonsistensi perilaku itu dengan mengatasnamakan agama. Mengatasnamakan Rasul. Mengatasnamakan Kitab Suci. Lebih dahsyat lagi mengatasnamakan Tuhan. Kabura maqtaan inda Allah 'an taquu luu maa laa taf'aluun. (QS Ash-Shaff/61: 3).
Tengoklah bagaimana perilaku beragama dalam dunia keseharian. Katanya beragama, tapi kok sangat sadar jabatan hingga menjadi budak kuasa (ta'bid al-siyasiyah). Katanya bertuhan, tapi menjadi budak ego (ta'bid an-nafs). Orang bilang mengikuti jejak Nabi, tapi menjadi budak seksual (ta'bid al-sahawat). Katanya mengikuti titah Kitab Suci yang asli, tapi jadi hamba harta (ta'bid al-mawd). Begitulah gugatan kesadaran yang penulis pinjam dari salah satu frasa "Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad" mengenai kecenderungan perilaku manusia. Bahwa paradoks berperilaku kini telah menjadi fakta yang meluas. Lain di hati, lain di bibir. Lain di lisan, lain pula perbuatan.
Inkonsistensi itu tidak konsisten. Tidak sesuai, tidak ajeg, bahasa agamanya tidak istiqamah. Inkonsistensi selalu menampilkan ketaksesuaian antara dunia ideal dan kenyataan. Katanya beragama, ahli agama, bahkan jadi tokoh agama, tetapi dunia nyata sering paradoks dengan pesan luhur agama.
Inkonsistensi itu sejenis kemunafikan perilaku dalam realitas. Ciri orang munafik, menurut Hadis Nabi, ada tiga. Manakala janji tak ditepati. Jika berkata dusta. Apabila diberi kepercayaan khianat. Bahasa lainnya kontradiksi, selalu bertentangan di dalam dirinya sendiri. Bibir serbamanis, tetapi perbuatan pahit seperti rasa empedu. Di lisan selalu berbicara alfabeta agama, tetapi lisan dan perbuatan yang ditunjukkan tak memancarkan napas agama. Agama yang suci, menyejukkan, elok, damai, dan memancarkan rahmat bagi siapa pun.
Inkonsistensi akhirnya merupakan bentuk dari krisis perilaku. Bahkan dapat menjadi akar dari krisis kehidupan di muka bumi ini. Tak kecuali untuk krisis di negeri tercinta ini. Di muara ketidak-konsistenan inilah sesungguhnya kita dapat jawaban dari banyak masalah rumit di negeri ini. Kita jadi bangsa paling korup, padahal mayoritas Muslim dan bangsa ini termasuk religius. Padahal mereka yang naik haji, umrah, berdzikir akbar, olah spiritual via manajemen qalbu, hingga beristighasyah justru kian hari semakin marak. Jangan-jangan penyakit utamanya memang pada inkonsistensi itu.
Tengoklah kenyataan yang telanjang. Di partai-partai politik Islam rebutan jabatan dan konflik kepentingan, sungguh tak kalah kerasnya dibanding dengan di partai lain yang dianggap sekular. Di ormas-ormas keagamaan pun perjuangan kekuasaan tak kalah serunya, ada juga yang berujung perpecahan karena "ayat kursi" yang jangka pendek itu. Bahkan konflik dengan semangat agama seringkali jauh lebih keras karena masing-masing pihak merasa berada di pihak yang paling benar dan membawa pesan suci Langit. Padahal, jika orang sudah terlampau merasa paling benar, maka yang muncul ialah pemutlakan sikap, absolutisme.
Bisa dibayangkan jika absolutisme itu diyakini penuh berdasarkan kebenaran agama, maka pemutlakannya akan berakumulasi. Orang atas nama agama akan mendudukkan diri sebagai polisi akidah dan polisi syariah berdasarkan keyakinan dan paham yang dianutnya sendiri. Karena merasa paling benar, sulit berdialog dan menerima kebenaran orang lain. Lalu tumbuh keangkuhan, yang kata Nabi bercirikan dua sifat yaitu suka menolak kebenaran (bathar al-haq) dan meremehkan pihak lain (ghamt al-nas). Padahal dalam keangkuhan beragama semacam itu biasanya bersarang penyakit inkonsistensi secara aman.
Inkonsistensi memang bisa tumbuh mekar dalam kenyataan beragama. Terutama dalam verbalisme beragama. Agama verbal dalam menyatakannya sering berbeda dengan beragama secara aktual. Tuhan bahkan memperingatkan agar kita jangan sampai menjadi pendusta agama, karena tak memberi makan anak yatim dan membebaskan orang miskin. Itulah teologi Al-Ma'aun dalam Alquran. Semangat dasarnya sama, agar iman konsisten atau paralel dengan amal saleh.
Maka tanggung jawab dan moral kaum beragama sangatlah berat. Beragama bukan sekadar mengikuti alfabeta syariah secara verbal. Bukan pula sekadar berhenti pada kefasihan berdalil dan bertabligh. Bukan pula hanya pada simbol-simbol. Lebih dari semua itu bagaimana beragama menunjukkan keteladanan dalam praktik untuk semua hal yang menyangkut kebajikan hidup.
Kenapa Tuhan begitu benci pada inkonsistensi beragama? Wallahu 'alam. Tapi, jika diselisik, tampaknya muara dari inkonsistensi itu justru akan berujung pada kemunafikan. Sedangkan kemunafikan justru menjadi sarang dari semua benih kamuflase. Menjadi tempat melekatnya segala macam topeng. Menjadi tempat bercampur aduknya antara haq dan batil, antara baik dan buruk, antara yang pantas dan tidak pantas.
Inkonsistensi adalah penyakit bawah sadar yang sering tak terdeteksi sejak dini. Orang merasa benar terus, bahkan ketika dia bersalah. Mudah menudingkan telunjuk ke luar, tapi ibu jari sesungguhnya mengarah ke dada sendiri. Kata pepatah, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Lalu, hidup jadi penuh kepura-puraan. Penuh topeng dan layar depan yang indah, tetapi di dalamnya berserakan.
Itulah sisi kelam inkonsistensi, mengubur yang otentik. Dengan inkonsistensi, maka beragama pun dapat menjadi kehilangan watak aslinya. Hilang kemurniannya yang sesungguhnya, selain kemurnian simbolis dan verbal. Agama tak berkorelasi dengan hal-hal yang fitri, yang asli, yang murni dalam makna yang substansial. Beragama menjadi jauh dari sikap adil, benar, bajik, dan hal-hal yang serba maslahat lainnya bagi kehidupan. Beragama kehilangan watak kelembutan dan kedamaian, sebaliknya menumbuhkan dogmatisme dan sikap serba keras. Di situlah inkonsistensi beragama, yang sebenarnya tak disukai Tuhan.
Bagaimana cara memotong matarantai inkonsistensi beragama? Juga untuk inkonsistensi perilaku pada umumnya? Itu pekerjaan paling sulit di muka bumi. Kenapa? Karena menyentuh wilayah yang paling fundamental dalam hidup manusia, yaitu aras keyakinan dan paham keagamaan. Membenahinya harus dimulai dari pencerahan keyakinan dan paham itu sendiri. Jika akar keyakinan dan paham keagamaannya sempit, maka amaliah dan perilaku keagamaan yang diproduksi pun tentu kian menyempit. Jika serba verbal, maka buahnya pun hanya kulit luar. Lantas muncul positivisme beragama. Agama kulit luar tak menyentuh isi mendasar, hingga kehilangan fungsi kerisalahannya sebagai rahmatan lil-'alamin. Fasih berdalil agama, tetapi tak pandai hifzh al-lisan, merawat perkataan.
Jika mata rantai inkonsistensi beragama maupun untuk perilaku pada umumnya dapat diamputasi, maka agama dan kaum agamawan sesungguhnya dapat menyumbang hal paling berharga dalam hidup ini. Pendek kata menjadi pilar paling kokoh dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang utama dan mulia di muka bumi ini melebihi humanisme. Orang jadi percaya akan kemurnian fungsi agama dan peran kaum agamawan secara sesungguhnya.
Kaum sufi punya banyak resep untuk beragama secara otentik, agar tak terjangkiti penyakit inkonsistensi. Mereka misalnya, mengajarkan futuwwah, ajaran tentang kesatriaan perilaku. Bagi kaum sufi, futuwwah adalah aturan dan praktik berperilaku terpuji mengikuti teladanan para Nabi, orang bijak, dan para kekasih Allah yang dimuliakan. Caranya melalui latihan-latihan spiritual yang total. Sejenis ilmu nglakoni dalam jagad kejawen.
Tapi ada banyak kritik dan keberatan pada jalan sufi. Lebih-lebih bagi salafiyyah dan kaum formalis. Dunia sufi, katanya suka kebablasan. Thariqah sufi sering dipandang bertentangan dengan alfabeta syariah. Baiklah, jika jalan sufisme tak memadai dan bahkan dipandang sesat, kita ingin tahu, bagaimana perspektif Islam syariah dan salafiyyah menawarkan jalan keluar untuk memotong matarantai inkonsistensi beragama maupun paradoks perilaku pada umumnya dalam kehidupan dunia nyata saat ini. Adakah jalan formalisme dan puritanisme memberi solusi mujarab? Jangan sampai dalam formalisme dan puritanisme yang serba kulit luar itu, justru bersarang banyak penyakit inkonsistensi.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home