Wednesday, August 03, 2005

My Cultural Experience

By Rilda A. Oe. Taneko
IFP Fellow

I had an experience related to culture clash. It happened four years ago. At that time, I went to Al Wasi’i, a mosque in my province (Lampung Province, Indonesia) to visit my friend of an Islamic youth organization attached to the mosque. My friend introduced me to some of her friends from the organization. There was no problem when I met her female friends; we kissed each other on the cheeks. But when she introduced me to her male friends, I was a bit shocked because they refused to shake my hand. They just folded their hands in front their faces. They did not even make an eye contact with me. At the time I thought that they did not like me. I felt I was being rejected by the community. I felt that I could not be a part of the group and I did not know why. What was wrong with my gesture, or with me, in general? I felt very embarrassed. My friend knew what I felt; suddenly she grabbed my hands, and led the conversations.

After a while, my friend told me it is just the way they respected me as a female friend. It was then I realized that there are multiple forms of culture; even among people sharing identical national and religions backgrounds. There are several cultural dimensions which caused this incident. First, it was caused by universalism factors. I was not aware of the others’ behavior patterns, and I also implemented my own patterns because I thought that other people’s behavioral standards are the same as mine. Second, the misunderstanding was caused by various interpretations of the teachings of Islam which can lead to differences in behavior patterns. For instance, touching the hands of opposite sex is strictly forbidden according to some Islamic spiritual leaders (Ulama). Yet, some say it is allowed as long as there is no sexual desire accompanying the action.

Last but not least, it was also caused by gender roles. Some cultures treat female and male differently. In my culture, friendships with the opposite sex should not be as close as those of the same sex. Male can touch his male friends, or female can touch her female friends. But male touching his female friends or vice versa is not allowed according to the culture. This cultural view is consistent with the Islamic values as my culture is very much influenced by Islam.

This experience taught me to be more careful and aware with other people’s behavior traditions. I realized that they cannot change their behavior to mine; so I am the one who has to adapt. When facing with the same situation again I will kiss the female twice on the cheeks and fold my hands when introduced to males.

Rilda A. Oelangan
Group II-PAT

Monday, August 01, 2005

Analisis Republika: Ekonom Penjajah

Senin, 01 Agustus 2005

Ekonom Penjajah

Oleh : Revrisond Baswir


Jika ada ekonom terjajah, tentu ada pula ekonom penjajah. Ekonom terjajah, sebagaimana saya ulas dalam analisis Juni lalu, adalah para ekonom yang sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh kaum penjajah. Karena sangat terpesona dengan pemikiran ekonomi kaum penjajah, tanpa disadari, kebijakan ekonomi yang mereka kembangkan cenderung mengabdi pada kepentingan ekonomi negeri penjajah.

Pertanyaannya, apakah yang saya maksud dengan ekonom penjajah? Sepintas lalu, keinginan saya untuk menelusuri ekonom penjajah ini mungkin terkesan mengada-ada. Bahkan, jika ditanyakan kepada para ekonom terjajah, mereka mungkin dengan sinis akan menyebut saya sebagai seorang kolumnis yang kurang pekerjaan atau paranoid.

Tetapi sebagai seorang kolumnis yang telah menulis selama empat setengah tahun secara berturut-turut di harian ini, saya mustahil bertindak sembarangan. Sebagai seorang kolumnis, saya secara teratur menyempatkan diri membaca buku terbitan dalam dan luar negeri. Artinya, walaupun secara pribadi saya bertanggung jawab terhadap setiap kolom yang saya buat, saya jarang sekali menulis tanpa sumber bacaan yang jelas.

Dalam menelusuri keberadaan ekonom penjajah ini, saya setidak-tidaknya mengacu pada dua buku berikut. Buku pertama ditulis oleh Michael Hudson, berjudul Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of US World Dominance (Pluto Press, London, 2003). Sedangkan buku kedua ditulis oleh John Perkins, berjudul The Confession on An Economic Hit Man (Berret-Koehler Publishers, Inc., San Fransisco, 2004).

Hudson, dalam Super Imperialism, memang tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom, lebih-lebih mengenai para ekonom penjajah. Sesuai dengan judul bukunya, Hudson secara panjang lebar bercerita mengenai asal mula dan pokok-pokok dominasi Amerika di dunia.

Secara ringkas, terdapat tiga hal pokok yang dikupas Hudson dalam buku setebal 425 halaman tersebut. Pertama, mengenai kelahiran orde dunia Amerika. Pada bagian ini Hudson bercerita mengenai upaya sistematis yang dilakukan Amerika dalam mempersiapkan dirinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia. Dari sekian tindakan yang dilakukan Amerika, menurut Hudson, yang terpenting di antaranya adalah penyelenggaraan Konferensi Keuangan Internasional di Bretton Woods, New Hampshire, pada 1944.

Kedua, mengenai pelembagaan kerajaan Amerika. Pada bagian ini Hudson pada intinya bercerita mengenai strategi Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia, khususnya melalui pembentukan lembaga keuangan dan perdagangan dunia seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Bab terpenting pada bagian ini, terutama jika dikaitkan dengan buku Perkins, adalah Bab 8, yaitu yang secara khusus membahas peranan utang sebagai instrumen imperialisme.

Dan ketiga, mengenai imperialisme moneter dan standar obligasi Amerika. Bagian ini pada dasarnya merupakan elaborasi dari langkah-langkah taktis yang dilakukan Amerika untuk memantapkan posisinya sebagai penguasa (ekonomi) dunia abad ke-21. Sebagaimana dikemukakan Hudson di bab terakhir (Bab 15), melalui penataan sistem moneter dan perdagangan dunia, Amerika pada dasarnya muncul sebagai penguasa dunia dengan cara menciptakan ketergantungan dunia terhadap perekonomian Amerika.

Walaupun tidak secara khusus berbicara mengenai sepak terjang para ekonom penjajah, tetapi secara implisit, sulit dibantah bahwa Hudson pada dasarnya bercerita mengenai keberhasilan para diplomat ekonom Amerika dalam memantapkan posisi negara mereka sebagai penguasa ekonomi dunia.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, salah satu instrumen Amerika dalam memantapkan posisinya sebagai penguasai ekonomi dunia itu adalah penyebaran jerat utang. Penyebaran jerat utang ini, selain dilakukan melalui pelembagaan Bank Dunia dan IMF, ditopang pula oleh beberapa upaya ekstra. Persis pada titik inilah buku Perkins, The Confession of An Economic Hit Man (Pengakuan Dosa Seorang Preman Ekonomi), bercerita mengenai sepak terjang para ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.

Sesuai dengan judulnya, buku Perkins berisi pengakuan dosa dari seseorang yang selama sekitar sepuluh tahun (1971-1981) bekerja sebagai preman ekonomi atau ekonom penjajah. Berangkat dari pengakuan Perkins, yang secara kebetulan mendapat penugasan pertama di Indonesaia, terdapat tiga catatan penting yang menarik untuk diangkat ke permukaan mengenai keberadaan ekonom penjajah dalam struktur pemerintahan Amerika.

Pertama, ekonom penjajah bekerja di bawah koordinasi Badan Keamanan Nasional (The National Security Agency - NSA)). Walaupun secara resmi para ekonom penjajah direkrut, dilatih, dan bekerja di bawah koordinasi NSA, tetapi secara operasional mereka pada umumnya dipekerjakan secara terselubung melalui perusahaan-perusahaan swasta Amerika. Perkins antara lain menyebut perusahaan-perusahaan seperti Monsanto, General Electric, Nike, General Motors, dan Wal-Mart, sebagai beberapa contoh.

Kedua, misi para ekonom penjajah adalah memperoleh komitmen para pejabat negara-negara Dunia Ketiga untuk berbelanja secara kredit ke Amerika. Dalam menjalankan misinya ini, seorang ekonom penjajah diperkenankan melakukan apa pun, termasuk cara-cara ilegal. Target para ekonom penjajah adalah mendorong para pejabat negara-negara Dunia Ketiga untuk terus membuat utang sampai mereka tidak mampu membayarnya.

Ketiga, kegagalan para ekonom penjajah di suatu negara bukanlah akhir dari upaya Pemerintah Amerika dalam mewujudkan impiannya. Menurut Perkins, dua hal dapat terjadi menyusul kegagalan para ekonom penjajah. Pertama, beroperasinya para jagal (the Jackals), yaitu yang ditandainya oleh terjadinya berbagai peristiwa yang mengarah pada pembinasaan seorang pejabat negara Dunia Ketiga. Dan kedua, penaklukan negara Dunia Ketiga yang bersangkutan melalui operasi militer.

Dari ulasan singkat mengenai buku Hudson dan Perkins tersebut, saya kira kita tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengakui keberadaan para ekonom penjajah dalam percaturan perekonomian dunia. Kedua buku tersebut secara jelas mengungkapkan, mustahil ada penjajahan ekonomi tanpa keterlibatan para ekonom penjajah di dalamnya.

Pertanyaannya, jika sebagai seorang ekonom penjajah Perkins akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku untuk mengakui dosa-dosa yang pernah dibuatnya, kapan kira-kira kita dapat membaca buku sejenis yang ditulis oleh seorang ekonom terjajah?

Tajuk Republika: Inkonsistensi

Minggu, 24 Juli 2005

Inkonsistensi

Oleh : Haedar Nashir


Ternyata Tuhan tak suka pada orang yang banyak bercakap kata tapi tak berbuat nyata. Lain di lisan, beda pula perbuatan. Dalil tak sesuai kenyataan. Pendek kata, pada inkonsistensi perilaku. Lebih-lebih manakala inkonsistensi perilaku itu dengan mengatasnamakan agama. Mengatasnamakan Rasul. Mengatasnamakan Kitab Suci. Lebih dahsyat lagi mengatasnamakan Tuhan. Kabura maqtaan inda Allah 'an taquu luu maa laa taf'aluun. (QS Ash-Shaff/61: 3).

Tengoklah bagaimana perilaku beragama dalam dunia keseharian. Katanya beragama, tapi kok sangat sadar jabatan hingga menjadi budak kuasa (ta'bid al-siyasiyah). Katanya bertuhan, tapi menjadi budak ego (ta'bid an-nafs). Orang bilang mengikuti jejak Nabi, tapi menjadi budak seksual (ta'bid al-sahawat). Katanya mengikuti titah Kitab Suci yang asli, tapi jadi hamba harta (ta'bid al-mawd). Begitulah gugatan kesadaran yang penulis pinjam dari salah satu frasa "Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad" mengenai kecenderungan perilaku manusia. Bahwa paradoks berperilaku kini telah menjadi fakta yang meluas. Lain di hati, lain di bibir. Lain di lisan, lain pula perbuatan.

Inkonsistensi itu tidak konsisten. Tidak sesuai, tidak ajeg, bahasa agamanya tidak istiqamah. Inkonsistensi selalu menampilkan ketaksesuaian antara dunia ideal dan kenyataan. Katanya beragama, ahli agama, bahkan jadi tokoh agama, tetapi dunia nyata sering paradoks dengan pesan luhur agama.

Inkonsistensi itu sejenis kemunafikan perilaku dalam realitas. Ciri orang munafik, menurut Hadis Nabi, ada tiga. Manakala janji tak ditepati. Jika berkata dusta. Apabila diberi kepercayaan khianat. Bahasa lainnya kontradiksi, selalu bertentangan di dalam dirinya sendiri. Bibir serbamanis, tetapi perbuatan pahit seperti rasa empedu. Di lisan selalu berbicara alfabeta agama, tetapi lisan dan perbuatan yang ditunjukkan tak memancarkan napas agama. Agama yang suci, menyejukkan, elok, damai, dan memancarkan rahmat bagi siapa pun.

Inkonsistensi akhirnya merupakan bentuk dari krisis perilaku. Bahkan dapat menjadi akar dari krisis kehidupan di muka bumi ini. Tak kecuali untuk krisis di negeri tercinta ini. Di muara ketidak-konsistenan inilah sesungguhnya kita dapat jawaban dari banyak masalah rumit di negeri ini. Kita jadi bangsa paling korup, padahal mayoritas Muslim dan bangsa ini termasuk religius. Padahal mereka yang naik haji, umrah, berdzikir akbar, olah spiritual via manajemen qalbu, hingga beristighasyah justru kian hari semakin marak. Jangan-jangan penyakit utamanya memang pada inkonsistensi itu.

Tengoklah kenyataan yang telanjang. Di partai-partai politik Islam rebutan jabatan dan konflik kepentingan, sungguh tak kalah kerasnya dibanding dengan di partai lain yang dianggap sekular. Di ormas-ormas keagamaan pun perjuangan kekuasaan tak kalah serunya, ada juga yang berujung perpecahan karena "ayat kursi" yang jangka pendek itu. Bahkan konflik dengan semangat agama seringkali jauh lebih keras karena masing-masing pihak merasa berada di pihak yang paling benar dan membawa pesan suci Langit. Padahal, jika orang sudah terlampau merasa paling benar, maka yang muncul ialah pemutlakan sikap, absolutisme.

Bisa dibayangkan jika absolutisme itu diyakini penuh berdasarkan kebenaran agama, maka pemutlakannya akan berakumulasi. Orang atas nama agama akan mendudukkan diri sebagai polisi akidah dan polisi syariah berdasarkan keyakinan dan paham yang dianutnya sendiri. Karena merasa paling benar, sulit berdialog dan menerima kebenaran orang lain. Lalu tumbuh keangkuhan, yang kata Nabi bercirikan dua sifat yaitu suka menolak kebenaran (bathar al-haq) dan meremehkan pihak lain (ghamt al-nas). Padahal dalam keangkuhan beragama semacam itu biasanya bersarang penyakit inkonsistensi secara aman.

Inkonsistensi memang bisa tumbuh mekar dalam kenyataan beragama. Terutama dalam verbalisme beragama. Agama verbal dalam menyatakannya sering berbeda dengan beragama secara aktual. Tuhan bahkan memperingatkan agar kita jangan sampai menjadi pendusta agama, karena tak memberi makan anak yatim dan membebaskan orang miskin. Itulah teologi Al-Ma'aun dalam Alquran. Semangat dasarnya sama, agar iman konsisten atau paralel dengan amal saleh.

Maka tanggung jawab dan moral kaum beragama sangatlah berat. Beragama bukan sekadar mengikuti alfabeta syariah secara verbal. Bukan pula sekadar berhenti pada kefasihan berdalil dan bertabligh. Bukan pula hanya pada simbol-simbol. Lebih dari semua itu bagaimana beragama menunjukkan keteladanan dalam praktik untuk semua hal yang menyangkut kebajikan hidup.

Kenapa Tuhan begitu benci pada inkonsistensi beragama? Wallahu 'alam. Tapi, jika diselisik, tampaknya muara dari inkonsistensi itu justru akan berujung pada kemunafikan. Sedangkan kemunafikan justru menjadi sarang dari semua benih kamuflase. Menjadi tempat melekatnya segala macam topeng. Menjadi tempat bercampur aduknya antara haq dan batil, antara baik dan buruk, antara yang pantas dan tidak pantas.

Inkonsistensi adalah penyakit bawah sadar yang sering tak terdeteksi sejak dini. Orang merasa benar terus, bahkan ketika dia bersalah. Mudah menudingkan telunjuk ke luar, tapi ibu jari sesungguhnya mengarah ke dada sendiri. Kata pepatah, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Lalu, hidup jadi penuh kepura-puraan. Penuh topeng dan layar depan yang indah, tetapi di dalamnya berserakan.

Itulah sisi kelam inkonsistensi, mengubur yang otentik. Dengan inkonsistensi, maka beragama pun dapat menjadi kehilangan watak aslinya. Hilang kemurniannya yang sesungguhnya, selain kemurnian simbolis dan verbal. Agama tak berkorelasi dengan hal-hal yang fitri, yang asli, yang murni dalam makna yang substansial. Beragama menjadi jauh dari sikap adil, benar, bajik, dan hal-hal yang serba maslahat lainnya bagi kehidupan. Beragama kehilangan watak kelembutan dan kedamaian, sebaliknya menumbuhkan dogmatisme dan sikap serba keras. Di situlah inkonsistensi beragama, yang sebenarnya tak disukai Tuhan.

Bagaimana cara memotong matarantai inkonsistensi beragama? Juga untuk inkonsistensi perilaku pada umumnya? Itu pekerjaan paling sulit di muka bumi. Kenapa? Karena menyentuh wilayah yang paling fundamental dalam hidup manusia, yaitu aras keyakinan dan paham keagamaan. Membenahinya harus dimulai dari pencerahan keyakinan dan paham itu sendiri. Jika akar keyakinan dan paham keagamaannya sempit, maka amaliah dan perilaku keagamaan yang diproduksi pun tentu kian menyempit. Jika serba verbal, maka buahnya pun hanya kulit luar. Lantas muncul positivisme beragama. Agama kulit luar tak menyentuh isi mendasar, hingga kehilangan fungsi kerisalahannya sebagai rahmatan lil-'alamin. Fasih berdalil agama, tetapi tak pandai hifzh al-lisan, merawat perkataan.

Jika mata rantai inkonsistensi beragama maupun untuk perilaku pada umumnya dapat diamputasi, maka agama dan kaum agamawan sesungguhnya dapat menyumbang hal paling berharga dalam hidup ini. Pendek kata menjadi pilar paling kokoh dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang utama dan mulia di muka bumi ini melebihi humanisme. Orang jadi percaya akan kemurnian fungsi agama dan peran kaum agamawan secara sesungguhnya.

Kaum sufi punya banyak resep untuk beragama secara otentik, agar tak terjangkiti penyakit inkonsistensi. Mereka misalnya, mengajarkan futuwwah, ajaran tentang kesatriaan perilaku. Bagi kaum sufi, futuwwah adalah aturan dan praktik berperilaku terpuji mengikuti teladanan para Nabi, orang bijak, dan para kekasih Allah yang dimuliakan. Caranya melalui latihan-latihan spiritual yang total. Sejenis ilmu nglakoni dalam jagad kejawen.

Tapi ada banyak kritik dan keberatan pada jalan sufi. Lebih-lebih bagi salafiyyah dan kaum formalis. Dunia sufi, katanya suka kebablasan. Thariqah sufi sering dipandang bertentangan dengan alfabeta syariah. Baiklah, jika jalan sufisme tak memadai dan bahkan dipandang sesat, kita ingin tahu, bagaimana perspektif Islam syariah dan salafiyyah menawarkan jalan keluar untuk memotong matarantai inkonsistensi beragama maupun paradoks perilaku pada umumnya dalam kehidupan dunia nyata saat ini. Adakah jalan formalisme dan puritanisme memberi solusi mujarab? Jangan sampai dalam formalisme dan puritanisme yang serba kulit luar itu, justru bersarang banyak penyakit inkonsistensi.